Rabu, 12 Juni 2013

Mengapa Kita Hidup

Mengapa Kita  hidup? pertanyaan yang saya pikir Anda pun sering pikirkan bukan? ya paling nggak pernah lah #loh. Jawaban akan hal ini tentu akan bermacam-macam, bertingkat-tingkat, berkelak-kelok ya bolehlah dibilang sesuai dengan tingkat intelegensi dan pendidikan pengalaman kita pribadi. Dan kali ini ijinkan daku sekadar menuangkan jawaban akan pertanyaan ini dalam segelas cawan memayaan #ceileh

Sob, hidup ini dinamis, kita  harus selalu berlari, atau melangkah, ngesot, atau apapun lah asal bergerak. Berbagai macam cara geraknya, tentu akan menghasilkan hasil yang berbeda dan berarti pasti ada berbagai macam tipe manusia kan? Menurut saya paling nggak itu ada 3 tipe manusia yang kita temui sesuai dengan pilihan dan hasil yang akan diterima, yaitu : Mereka yang bahagia tapi tak berhasil, Mereka yang tidak bahagia walau berhasil, dan Mereka yang bahagia dan berhasil. Mari Kita bahas satu-satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia yaa. . .

Pertama, Mereka yang bahagia tapi tak berhasil. Nah, saya yakin Anda pasti sudah bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang bahagia walau tidak berhasil. Well, saya juga bertanya-tanya sama seperti anda sampai suatu hari saya dapati mereka yang hidup tanpa aturan. Saya perhatikan sekian lama, raut muka mereka mengiaskan kebahagiaan, tanpa tekanan, bebas lepas lah. Tapi sayangnya mereka hidup hanya untuk diri sendiri, menuhankan kebahagiaan sebatas nafsu, bebas lepas dari tanggung jawab. Bukankah itu ciri pengecut? bagi saya mereka seperti burung yang terbang dalam sekat kaca transparan, bebas sih tapi sekadar bebas dalam kandang walau kadang mereka ga sadar..

Selanjutnya, Mereka yang tidak bahagia walau berhasil. Setujukah Anda jika saya bilang kesuksesan itu relatif? sukses itu mereka yang menurut kita berhasil, punya harta berlimpah, rumah dimana-mana. Ya bukankah itu definisi sukses yang kita terima mentah-mentah. Sukses sebatas materi saja itu mah. Tapi tahukah Anda, banyak lho manusia-manusia yang sudah sukses materi ini tapi stress, gila, bahkan sampai bunuh diri. Memang sih jauh lebih banyak yang stress, gila, bunuh diri karena kurangnya materi, tapi bukan itu poinnya! See? Kenapa bisa mereka bunuh diri walau materi penuh berisi? Saya simpulkan mereka itulah manusia yang gersang rohani walau berlimpah materinya. So seperti apa seharusnya?

Inilah yang saya rasa menjadi jawaban pertanyaan diatas. Manusia tipe ketiga, mereka yang bahagia dan berhasil. Ada alasan mengapa saya tempatkan kata bahagia lebih dulu dari kata berhasil. mengapa bahagia dulu? saya selalu berpikir dan akhirnya saya rasakan, tadakah orang yang bahagia dan berhasil tanpa menjadi diri sendiri? Lalu apa itu menjadi diri sendiri? menjadi diri sendiri menurut saya adalah menuruti kata hati. Bukan sembarang kata hati hingga kita tertipu hidup menuruti nafsu diri demi kebahagiaan semu atau malah mengabaikan kata hati sehingga kebahagiaan tak pernah didapati. Tapi kata hati yang dapat menjadikan kita bermanfaat bagi orang lain. Kata hati yang membawa kita mencapai passion dan tingkat dimana bekerja serasa bermain, berkorban serasa membahagiakan, memberi serasa menerima, garam serasa gula, singkong serasa keju. Well, menurut saya mereka inilah yang bisa bahagia dan berhasil. Ya memang sih mereka yang bahagia dan berhasil tidak selalu punya materi berlimpah tapi yang jelas mereka pasti punya hati yang berlimpah. Dan bukankah manusia yang terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama?

So dari tipe-tipe manusia yang saya sebut diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa kita hidup bukan untuk diri sendiri ataupun hanya mengejar materi saja, tapi kita hidup untuk menjadi manusia terbaik. Siapa dia? Dialah manusia yang bekerja dengan pilihan hati dan passionnya guna menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia lain.

 Sekian dan Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar